Curah Hujan Tinggi! Waspadai Kejadian Banjir
Dalam konteks klimatologis, prakiraan musim hujan menunjukkan bahwa puncak musim hujan pada bulan Januari dan Februari 2026 diprediksi akan dialami oleh 276 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 39,5% wilayah Indonesia. Wilayah tersebut meliputi Jambi bagian selatan, Bengkulu bagian selatan, Sumatera Selatan bagian timur, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara bagian barat, Gorontalo bagian barat, sebagian Maluku, Papua Barat bagian timur, Papua Tengah bagian tengah, sebagian Papua, Papua Pegunungan, serta sebagian Papua Selatan. Kondisi ini menunjukkan potensi peningkatan curah hujan secara signifikan pada awal tahun 2026.
Berdasarkan data kejadian bencana dari BPBD Kabupaten Jember selama periode 2025, tercatat tiga jenis bencana utama yang terjadi di 31 kecamatan, yaitu banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Secara keseluruhan, jumlah kejadian banjir mencapai 78 kejadian, banjir bandang 2 kejadian, dan tanah longsor 36 kejadian. Banjir merupakan bencana dengan frekuensi tertinggi. Kecamatan Kaliwates mencatat jumlah kejadian paling banyak dengan 13 kejadian, diikuti oleh Bangsalsari sebanyak 10 kejadian, Sumberbaru sebanyak 6 kejadian, serta Sumberbaru dan Tanggul masing-masing 5 kejadian. Beberapa kecamatan lain seperti Gumukmas, Wuluhan, Rambipuji, Pakusari, Kalisat, dan Patrang juga menunjukkan frekuensi banjir yang relatif tinggi. Sebaran kejadian ini menunjukkan bahwa banjir terjadi di wilayah dengan karakteristik fisik dan tata guna lahan yang beragam.
Kejadian banjir bandang tercatat lebih terbatas, yaitu masing-masing 1 kejadian di Kecamatan Silo dan Sumberjambe. Meskipun jumlah kejadiannya relatif sedikit, banjir bandang memiliki karakteristik kejadian yang berlangsung cepat dan berpotensi menimbulkan dampak besar, sehingga tetap perlu diperhitungkan dalam analisis risiko bencana.
Untuk kejadian tanah longsor, total tercatat 36 kejadian yang tersebar di beberapa kecamatan. Kecamatan Kaliwates mencatat jumlah tertinggi dengan 6 kejadian, diikuti oleh Patrang dan Arjasa masing-masing 4 kejadian. Kecamatan Sumberbaru, Tanggul, dan Jelbuk masing-masing mencatat 3 kejadian, sementara kecamatan lainnya mengalami longsor dengan frekuensi yang lebih rendah. Pola sebaran ini mengindikasikan keterkaitan antara kejadian longsor dengan kondisi topografi, penggunaan lahan, serta tingginya curah hujan.
Secara keseluruhan, data kejadian bencana tahun 2025 dapat digunakan sebagai dasar dalam menilai kerentanan wilayah serta sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan langkah antisipatif menghadapi puncak musim hujan pada awal tahun 2026, khususnya dalam upaya pengurangan risiko banjir dan tanah longsor.